Negatif Menjadi Positif: Belajar Menerima Kekurangan Orang Lain

Beberapa waktu yang lalu dia mengatakan, “aku serius menjalani bisnis orangtua.”

Tadi, dia meneleponku dan mengatakan, “aku ingin bekerja aja, tinggal bersama mereka bikin stress.”

Oh Tuhan…

Aku sampaikan kepadanya bahwa bagaimanapun juga mereka itu orangtuanya. Orangtua mana yang gak sayang kepada anaknya? aku sendiri orangtua dari dua anak, maka aku pun kini merasakan bagaimana jalan pikiran orangtua itu. Jadi, anggaplah omelan orangtua itu karena ekspresi rasa peduli. “Tapi caranya itu salah!” begitu katanya. Menurutku, kecuali orangtua menyuruh untuk melakukan maksiat, maka sisanya itu demi kebaikan si anak. Memang gak semua orangtua itu pintar mengasuh, gak semua orangtua pintar membimbing anak-anaknya, aku pun gak pintar.

Lalu aku sampaikan kepadanya bahwa kalimat negatif dari orangtuanya itu memang menyinggung perasaan, tapi maafkanlah, lupakanlah hal yang telah berlalu meskipun itu baru dialami beberapa saat yang lalu. Apalagi kalimat negatif itu datangnya dari orangtua, orangtua.

Yang harus dipikirkannya adalah apa visi hidupnya, apa misi hidupnya. Penghalang, rintangan dalam menjalani kehidupan ini pasti ada. Bahkan binatang sekalipun gak gampang mendapatkan makanan, namun dia tetap saja berusaha mencari, mengais tong sampah demi mengobati perut yang lapar. Aku pernah melihat induk kucing memarahi anaknya dengan cakaran jika anak kucing itu bandel, pecicilan. Bahkan anak bayi sekalipun harus melalui proses telungkup lalu merangkak lebih dulu baru bisa duduk kemudian berdiri dan seterusnya.

Gak ada di dunia ini yang semudah membalikkan telapak tangan.

Aku sampaikan kepadanya bahwa tempat meminta itu ya ke Allah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kemana lagi tempat meminta? siapakah yang mau memberi sesuai keinginan kita kecuali Allah?

Mudah-mudahan anak muda itu mau memaafkan orangtuanya, berdamai dengan seruan negatif dari orangtuanya sebab orangtua itu bukan menyuruh untuk berbuat maksiat, melainkan demi kebaikannya. Orangtua gak pintar berbicara menyampaikan pendapat, begitulah adanya mereka, terima itu dengan lapang dada. Jika si anak ingin sukses di masa depan, belajarlah menerima kekurangan orang lain, terutama orangtua sendiri.

Mudah-mudahan anak muda itu belajar mengerti dan menerima kekurangan orang lain, terutama orangtuanya. Dengan begitu, mudah-mudahan apapun rintangan yang akan dihadapi di kemudian hari bisa dilalui dengan mudah. Itu baru omelan dari orangtua, belum lagi omelan dari bos.

Sambil melamar pekerjaan, sambil juga bertawakkal, minta ke Allah dimurahkan rejeki, minta ke Allah diterima bekerja di tempat yang layak dan baik. Semoga terkabul, amiin. Kalo gak terkabul, sebaiknya legowa dan dicoba lagi, lagi, dan lagi. Beribadah lagi, lagi, dan lagi. Berusaha terus… sambil berniat itu semua dilakukan demi Tuhan.

Mudah-mudahan anak muda itu bersedia memaafkan, bersedia melupakan, dan fokus pada visi-misi hidupnya.

Buat anak muda itu, semoga sukses menggapai apa yang dicita-citakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s